Anomali pada Harga Komoditas Minyak Goreng Indonesia



( 2016-06-02 06:29:34 )

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa banyak terjadi anomali pada harga bahan kebutuhan pokok. Walaupun produksi yang di hasilkan di dalam negeri cukup besar, namun harga yang harus dibayar konsumen tergolong masih sangat mahal.

Ia berpendapat, selain terjadi pada daging ayam, anomali paling terlihat jelas juga terjadi pada komoditas minyak goreng. Sedangkan di sisi lain, Indonesia merupakan negara produsen minyak sawit (CPO) terbesar dunia.

"Kita ini produsen CPO terbesar di dunia, hampir semua negara kita ekspor," tutur Amran saat ditemui di pabrik pakan ternak PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) di Balaraja, Tanggerang, Banten, Rabu (1/5/2016).

Amran berpendapat, kalau membandingkan antara stok dengan kebutuhan konsumsi minyak goreng, harga minyak goreng yang sekarang ini di atas Rp 13.000/kg, keadaan tersebut dapat disebut sebagai anomali. Meskipun demikian, dia tak menyebut berapa target untuk penurunan harga minyak goreng.

"Masa stok Bimoli (minyak goreng) ada sekitar 1,6 juta ton, sedangkan untuk kebutuhan hanya sekitar 400.000 ton, artinya kita memiliki stok 4 kali lipat, tapi harganya malah naik. Apa harga naik karena tetangga (bahan pokok lain) naik, jadi dia ikutan naik," katanya.

Khusus untuk memicu harga minyak goreng turun pada saat puasa dan Lebaran sesuai instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi), dirinya menjadwalkan untuk mengadakan pertemuan dengan produsen minyak goreng dalam waktu dekat.

"Setelah bawang dan beras, kemudian ayam beres, berikutnya saya ingin harga minyak goreng (turun). Nanti saya ketemu dengan produsen CPO," pungkas Amran.