Neraca Perdagangan RI Diperkirakan Defisit Pada Januari



( 2016-02-15 07:45:17 )

Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2016 diprediksi akan kembali defisit, seperti realisasi pada Desember 2015. Tren ini bergulir akibat kontraksi kinerja ekspor lebih besar daripada impor.

Menurut analisa dari Moody's, neraca perdagangan Indonesia akan kembali negatif setelah beberapa bulan di tahun lalu mencatatkan surplus karena penyusutan ekspor lebih rendah dibanding impor.

Tetapi kini, ekspor terus mengalami pelemahan seiring dengan melambatnya ekonomi dunia, termasuk salah satunya China sehingga berpengaruh terhadap permintaan global. Hal ini membuat defisit perdagangan di Indonesia tidak mampu dihindari lagi sebab China merupakan mitra dagang utama Negara ini.

"Kinerja ekspor pada bulan Januari 2016 turun sebesar 15,4 persen, sedangkan impor melemah 6,2 persen. Dengan demikian, prediksi defisit neraca perdagangan pada awal tahun ini sebesar US$ 600 juta," tutur Ekonom Grup Research DBS Bank Ltd, Gundy Cahyadi di Jakarta, Senin (15/2/2016).

Proyeksi defisit itu lebih tinggi dibanding realisasi neraca perdagangan di akhir tahun lalu yang berjumlah US$ 230 juta, berdasarkan keterangan Badan Pusat Statistik (BPS).

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom dari Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih memprediksi hal serupa. Perdagangan Indonesia akan kembali mencetak defisit.

"Saya rasa masih tetap defisit, sebab harga minyak dan komoditas yang menjadi andalan ekspor, harganya masih terus turun selama Januari 2016," paparnya.

Lana mengatakan, kinerja impor, mengalami sedikit peningkatan terutama pada sektor bahan baku dan minyak. Sedangkan impor barang modal masih menurun meski pemerintah sudah memacu penyerapan anggaran untuk investasi pembangunan infrastruktur di awal tahun.

"Belanja modal yang dilakukan pemerintah per Januari ini baru sekitar Rp 8 triliun, jadi belum begitu besar," tutup Lana.