Lakukan Transaksi Afiliasi, Bank Mayapada Terima Dana Segar Sebesar Rp 265 M



( 2017-08-09 05:36:40 )

PT Bank Mayapada Internasional Tbk. melancarkan negosiasi terafiliasi terkait penjualan kantor cabang perseroan di Bandung senilai Rp 265 miliar. Hasil dari penjualan kantor itu pun disebut dapat menambah likuiditas dan efisiensi perseroan.

Haryono Tjahjariadi sebagai Direktur Utama Bank Mayapada mengungkapkan, dengan penjualan itu, perseroan menerima tunai yang cukup besar sehingga bisa menambah likuiditas dan memajukan efisiensi. “Nantinya, di gedung itu pun akan tetap ada kantor cabang pembantu mengingat sudah ada banyak nasabah di sana, sedangkan status kantor cabang akan kami pindahkan ke lokasi yang lebih strategis,” ujarnya pada hari Selasa (08/08/2017).

Haryono pun menguraikan, terkait pemindahan ke kantor cabang baru ditambah biaya renovasi tidak lebih dari sekitar Rp 15 miliar sampai Rp 20 miliar. “Jadi secara keseluruhan, transaksi ini memberikan dampak positif kepada kami,” urainya.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (08/08), Bank Mayapada mengatakan telah melakukan transaksi terafiliasi terkait penjualan kantor cabang di Bandung senilai Rp 265 miliar.

Bank Mayapada menjual ruang kantor yang dijadikan kantor cabang di gedung jalan Sudirman Bandung sebanyak delapan lantai. Secara keseluruhan, gedung itu memiliki jumlah 17 lantai termasuk 2 basement. Adapun, yang menjadi pembelinya adalah PT Nusa Sejahtera Kharisma, perusahaan yang 99 persen sahamnya dimiliki oleh PT Sejahtera Raya Anugrahjaya Tbk., sedangkan 1 persen dimiliki oleh Jonatan Tahir.

Transaksi itu disebut terafiliasi karena terdapat kesamaan pengurus antara bank berkode emiten MAYA dengan Nusa Sejahtera Kharisma. Kesamaan itu yakni keberadaan Tahir sebagai komisaris utama perseroan yang juga menjabat komisaris di Nusa Sejahtera Kharisma. Selain itu, Tahir juga menjadi wakil komisaris utama di Sejahtera Raya Anugrahjaya dan menjadi pemegang saham di PT Surya Cipta Inti Cemerlang dan PT Mayapada Healthcare Group.

Dalam keterbukaan informasi tersebut pun disebutkan, alasan penjualan dilakukan karena perseroan tidak menggunakan keseluruhan lantai yang dimiliki sebanyak delapan. Bank berkode emiten MAYA itu hanya menggunakan tiga lantai sebagai kantor cabang.

Kantor cabang perseroan itu pun berada pada kawasan pasar tradisional yang beroperasi sejak dini hari sampai pagi hari sehingga sedikit menganggu aktivitas kantor cabang tersebut. Hal itu membuat posisinya pun kurang strategis. Selain itu, langkah ini juga sebagai salah satu strategi efisiensi perseroan. Meskipun begitu, perseroan berencana memindahkan kantor cabang itu tempat yang lebih strategis yakni di Jalan Veteran, Bandung. Terakhir, penjualan itu dilakukan karena disebut penawaran yang diberikan cukup menarik.

Dengan penjualan aset tersebut, perseroan pun dapat mengubah aset nonproduktif menjadi aset yang produktif. Sampai semester I/2017, Bank Mayapada mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 9,99 persen menjadi Rp 439,91 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Untuk rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perseroan naik menjadi 82,44 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang sebesar 80,13 persen. Kemudian, untuk posisi loan to deposit rasio atau LDR perseroan berada pada posisi 83,46 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang sebesar 88,98 persen.