Rencana Peningkatan FFR, Pemerintah dan BI Diharapkan Dapat Menjaga Stabilitas Rupiah



( 2017-03-07 03:41:41 )

Kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, The Fed Fund Rate atau FFR yang direncanakan naik tahun ini akan memiliki dampak yang negatif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, Bank Indonesia atau BI dan pemerintah diharapkan memiliki langkah tepat agar rupiah tidak terjerumus semakin dalam dan arus modal yang keluar (capital outflows) tidak terlalu kencang.

“Ini yang harus diperhatikan pemerintah dan BI. Biasanya kalau ada kenaikan FFR, outflow yang cepat terjadi di bond market dan forex market. Dan BI harus jaga dan intervensi di dua tempat itu,” kata Kepala Ekonomi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Anton Gunawan, di Jakarta pada Senin (06/03/2017).

Menurut Anton, jika kenaikan FFR masih sebesar 150 basis poins (bps) atau 1,5 persen maka dapat menarik rupiah ke level Rp 13.800/USD. Namun, jika naiknya lebih dari 200 bps, maka rupiah bisa lebih fatal lagi turunnya. Bagi Anton, sebenarnya selisih antara BI 7 days repo rate dengan Fed rate masih cukup leluasa jika kenaikan yang terjadi sesuai prediksi sebanyak 325 basis poin (bps). “Sehingga, naiknya hanya sampai 1,5 persen, tidak di atas 2 persen ya. Sehingga risikonya lebih kecil,” ungkap Anton.

Suku bunga BI yang di level 4,75 persen, katanya melanjutkan, dengan Fed rate kalau naiknya ke 1,5 persen masih ada sekitar 3,25 persen selisihnya. Situasi itu dianggap masih relatif baik. “Kecuali FFR naiknya 2 persen atau ke atas, dan lebih parah lagi juga diikuti kenaikan US treasury ke 3 persen, sekarang 2,4 persen, itu bisa akan tekan rupiah,” ucapnya. Dia menekankan, ekspektasi dunia sendiri memperkirakan kenaikan FFR di tahun ini hanya akan terjadi dua kali. Kalau pun akan agresif, maksimum bisa sampai tiga kali.

Negara-negara lain sendiri mengantisipasi kenaikan FFR ini karena akan berdampak ke aliran dana ke luar (capital outflows). Meski begitu, efek capital outflow tidak terlalu banyak dan masih terjaga. “Karena Di Asia dan ASEAN yang masih tujuan capital inflow, Asia masih jadi satu tempat sasaran yang menarik bagi investasian makanya akan ada capital inflow dunia,” jelas dia.

Ditambah lagi, kendati dampaknya bakal mengoyak rupiah, Anton tetap melihat kebijakan Presiden AS Donald Trump tak akan terlalu agresif. Karena ingin mendorong perekonomian dalam negeri. “Dengan kebijakan Trump dorong ekonomi domestik kalau bisa jangan terlalu cepat kenaikannya (FFR),” katanya mengakhiri.