Tantangan Berat Rupiah, usai Trump Resmi Jadi Presiden AS



( 2017-01-23 10:15:51 )

Guncangan nilai tukar rupiah diprediksi akan semakin tinggi di tahun ini. Kebijakan dari Presiden AS Donald Trump yang dinilai proteksionis dan ditambah dengan rencana kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (the Fed) akan menjadi sentimen yang membayang-bayangi nilai tukar rupiah.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto memprediksi The Fed akan menyesuaikan Fed Fund Rate (FFR) secara perlahan sebanyak dua atau tiga kali sepanjang 2017.

"Memprediksi arahnya sih kenaikan FFR lebih dari satu kali, bisa dua atau tiga kali sehingga tantangan rupiah terhadap dolar AS akan lebih besar di tahun 2017 dibanding pada tahun lalu," tutur dia, di Jakarta, Senin (23/1/2017).

Eko menuturkan lebih lanjut, ketergantungan Indonesia terhadap mata uang dolar AS sangat besar. Sekitar 75 persen transaksi perdagangan Indonesia menggunakan dolar AS. Inilah hal penting yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mulai beralih ke mata uang lain sebagai alternatif transaksi perdagangan.

"Idenya Presiden kan diversifikasi ke yuan, yen, euro, dan pound sterling. Misalnya sekarang kita memiliki banyak proyek dengan Jepang, ada kereta cepat, Pelabuhan Patimban, nah itu tidak harus menggunakan dolar AS tapi diversifikasi ke yang lain," paparnya.

Dengan cara ini, Eko memperkirakan, guncangan kurs rupiah tidak akan terlalu besar karena Indonesia mampu mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS. Pasalnya selama ini, Bank Indonesia (BI) harus menguras cadangan devisa (cadev) sebagai langkah intervensi ketika mata uang Garuda terdepresiasi cukup dalam.

Ia mengakui, menjaga nilai tukar rupiah, bisa melalui upaya lain. Pertama, menjaga kepercayaan pasar dengan terus memperbaiki fundamental ekonomi Indonesia, diantaranya pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, defisit transaksi berjalan, dan sebagainya yang menjadi indikator makro ekonomi negara ini.

"Ingin FFR naik, statement Trump kontradiktif, kalau kita dapat memperlihatkan pertumbuhan ekonomi, inflasi terjaga, ekspor meningkat, maka hal itu cukup meredam gejolak kurs rupiah karena didukung dengan realisasi data yang semakin baik," jelas Eko.

Eko memprediksi nilai tukar rupiah tahun ini berada di kisaran Rp 13.500 per dolar AS. Sedikit melemah dibanding pada proyeksi pemerintah di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 yang sebesar Rp 13.300 per dolar AS.

"Proyeksi kita memang lebih lemah dibanding pemerintah karena isu tadi, FFR bakal naik dan kebijakan Trump yang berseberangan dengan presiden sebelumnya," paparnya.

Bersamaan dengan itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan The Fed sudah berencana menaikkan suku bunga acuannya hingga ke level 1,75 persen pada akhir 2017.

Dia meneruskan, aliran modal keluar dari Indonesia berpeluang meningkat lebih tinggi dibanding pada periode-periode sebelumnya ketika tingkat suku bunga the Fed masih cukup rendah. "Dampaknya volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin tinggi di 2017," paparnya.

Dirinya mengutarakan, pada saat The Fed meningkatkan suku bunga acuan (FFR) 25 basis poin menjadi 0,75 persen pada Desember 2016, nilai tukar rupiah terdepresiasi 59 poin dari Rp 13.367 per dolar AS menjadi Rp 13.426 per dolar pada 16 Desember 2016. Itu dengan suku bunga BI 7 day Reverse Repo tetap dipertahankan pada level 4,75 persen.

"Diprediksi BI 7 Day Repo Rate belum akan bergerak turun, bahkan berpeluang untuk meningkat. Apalagi, potensi kenaikan inflasi tahun ini akan lebih tinggi dibanding pada tahun 2016," tandas Faisal.