Kredit UMKM di Yogyakarta Kuartal III Tumbuh 11,55%



( 2016-12-09 05:04:58 )

Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta masih bertumpu kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Terbukti selama tahun 2016 ini, penyaluran kredit sektor UMKM justru mengalami peningkatan. Padahal secara umum kredit di Yogyakarta sedang mengalami perlambatan akibat melambatnya perekonomian global.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Arief Budi Santosa mengungkapkan tren penyaluran kredit sekot UMKM justru mengalami kenaikan kendati secara umum sedang ada tren penurunan. Kredit UMKM di Yogyakarta pada kuartal III tahun 2016 tumbuh 11,55% dibanding periode yang sama tahun lalu. "Dan jika dibanding dengan kuartal sebelumnya terjadi peningkatan sekitar 7,61%," ungkapnya, pada hari Kamis (08.12.2016).

Hal ini menunjukkan UMKM mampu bertahan dan bertumbuh kendati perekonomia Yogyakarta sedang mengalami perlambatan, imbas melambatnya ekonomi global. Dan daya tahan atau imunitas UMKM justru lebih kuat dalam menghadapi isu global ketimbang industri skala besar.

Di Yogyakarta, pangsa pasar kredit UMKM sendiri mencapai 45% dibanding dengan pangsa pasar yang lain. Dan selalu mengalami peningkatan. Di sektor perdagangan, hotel dan restoran, konstruksi dan pertanian merupakan sektor-sektor yang banyak menerima penyaluran kredit UMKM dari perbankan.

Arief menandaskan, stabilitas keuangan di Yogyakarta tetap terjaga di tengah terbatasnya pertumbuhan kinerja perbankan. Ia mengakui jika penyaluran kredit perbankan mengalami perlambatan sebagai dampak perlambatan ekonomi nasional. Penghimpunan dana Pihak Ketiga pada kuartal III yang lalu, sebenarnya juga mampu mengalami pertumbuhan. "DPK tumbuh sekitar 11,43% yaitu sebesar Rp 54,04 triliun," ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa pertumbuhan DPK ini tak diikuti oleh penyaluran kredit karena justru melambat dari 7,2% menjadi 6,21% pada kuartal yang sama. Perlambatan penyaluran kredit ini akhirnya berdampak pada menurunnya rasio Loan to Deposit, di mana pada kuartal ketiga hanya sebesar 61,79%. Namun demikian, ia mencatat adanya peningkatan Non Performing Loan dari 2,95% menjadi 3,11%.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Yogyakarta, GKR Mangkubumi mengatakan, pihaknya mendorong pelaku usaha di Yogyakarta untuk bersama-sama menggalang investasi yang kuat, membangun usaha yang bisa berdaya saing dengan pelaku usaha nasional atau internasional. Meski selama ini sebagai pendukung perekonomian Yogyakarta, tetapi peran UMKM dalam pembangunan belum nampak begitu besar.

Saat ini, lanjutnya, penguasaan sektor-sektor strategis di perekonomian nasional sudah banyak diisi pebisnis lokal atau asing. Maka diperlukan sebuah gerakan pelaku bisnis lokal yang memperjuangkan pelaku bisnis daerah dan nasional, khususnya UMKM sebagai aktor utama peluang bisnis di wilayahnya. "UMKM juga harus menjadi aktor utama pembangunan di Yogyakarta," ujarnya dalam pertemuan Jogja Incorporated.