Ada Demo 2 Desember, Bagaimana Pergerakan Rupiah ?



( 2016-12-02 03:24:15 )

Puluhan ribu massa akan turun ke jalan untuk menggelar Aksi Bela Islam jilid III di Monas, Jakarta hari ini (02.12.2016). Di saat bersamaan, ratusan ribu buruh siap mengepung Istana dan berdemo menolak kebijakan upah murah. Aksi yang disebut demo 2 Desember ini apakah akan berpengaruh pada laju nilai tukar rupiah?

Kepala Riset, Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak pada rentang 13.500-13.620 per dolar Amerika Serikat (AS) untuk di perdagangan hari ini. Dari kurs tengah Bank Indonesia (BI) kemarin tanggal (01.12.2016), nilai tukar mata uang Garuda menyentuh level Rp 13.582 per dolar AS.

"Demo 2 Desember kan sudah diredam, sehingga saya percaya tidak ada gejolak karena kondisi domestik kita tenang-tenang saja. Jadi saya perkirakan rupiah di level 13.500-13.620 per dolar AS hari ini," ujarnya, Jakarta, Jumat ini.

Ariston menjelaskan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah bersafari ke partai politik, organisasi masyarakat (ormas) Islam, dan berbagai pihak terkait lainnya untuk meredam keadaan yang sempat memanas.

"Jadi sudah menunjukkan sinyal bahwa akan aman-aman saja. Bahwa tidak ada masalah di dalam negeri kita, meskipun ada demo 2 Desember," tuturnya.

Diakuinya, seluruh pelaku pasar di dunia saat ini lebih fokus pada perkembangan kebijakan pemerintah AS dan The Fed yang berencana menaikkan tingkat bunga acuan pada tanggal 14 Desember mendatang. Sehingga membuat nilai tukar rupiah terus tertekan.

"Faktor eksternal lebih kuat membayangi pergerakan rupiah saat ini. Sejak Donald Trump terpilih, rupiah melayang di kisaran 13.300-13.600 per dolar AS," ujar Ariston.

Dirinya memproyeksikan, kurs rupiah masih akan terus tertekan karena indikasinya The Fed akan menaikkan Fed Fund Rate pada akhir tahun ini sekali, dan dua kali di tahun 2017.

"Kalau indikasinya masih mau naikkan suku bunga tahun depan, rupiah masih bisa tertekan. Hingga akhir tahun ini, rentang rupiah berada di level 13.300-13.700 per dolar AS," dia menerangkan.

Namun demikian, Ariston optimistis, peluang rupiah menguat di tahun depan masih terbuka lebar di kisaran 13.000-13.200 per dolar AS.

"Pendorong potensi apresiasi rupiah, diperkirakan ada repatriasi dari tax amnesty Rp 100 triliun, perbaikan pertumbuhan ekonomi di kuartal I, dan jika Trump tidak mengeluarkan kebijakan aneh, seperti kebijakan proteksionis," harap Ariston.

Untuk diketahui, puluhan ribu orang diperkirakan akan memadati kawasan Monas, Jakarta. Mereka menggelar aksi damai 2 Desember. Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) bersama polisi telah sepakat mengubah demo 2 Desember menjadi aksi super damai yang diisi dengan kegiatan keagamaan di Monas. Kesepakatan tersebut tercapai saat keduanya bertemu di kantor MUI.

Meski format aksi berubah, namun demo 2 Desember tidak mengubah tuntutannya agar polisi dan kejaksaan menuntaskan proses hukum terhadap tersangka dugaan penistaan agama, Ahok.