BI: Ekonomi Tumbuh 5 Persen Itu Tidak Cukup



( 2016-11-23 06:48:59 )

Indonesia yang merupakan negara berkembang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dibanding dengan negara-negara berkembang lainnya. Pada kuartal III 2016, pertumbuhan ekonomi RI capai 5,02 persen.

Walau mempunyai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari rata-rata, tetapi Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi pada level saat ini dianggap tidak cukup.

"Memang tumbuh 5 persen untuk negara sebesar ini, untuk menyerap angkatan kerja masuk ke lapangan kerja, tidaklah cukup. Diharuskan tumbuh 7 persen," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (23/11/2016).

Menurut Mirza, dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa dan mempunyai bonus demografi menjadi satu kekuatan yang harus dimanfaatkan demi membawa Indonesia menjadi lebih maju di beberapa tahun yang akan datang.

Karena itu, kunci untuk menuju pertumbuhan ekonomi yang di atas 7 persen tersebut, dikatakan Mirza, Indonesia harus melakukan structure reform. Strukture reform ini dilakukan untuk membuat iklim usaha yang lebih bersahabat.

Mirza melanjutkan, Indonesia masih sangat tergantung pada investasi demi menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak. Investasi tersebut juga harus difokuskan pada industri manufaktur, bukan lagi industri tambang.

"Kita dapat lihat, tahun 80an Indonesia itu tumbuh 7 persenan terus, itu dari manufaktur, menyerap tenaga kerja banyak. Tapi usai krisis moneter‎ 1998-1999 itu beralih menjadi pengekspor bahan mentah. Karena itu kita harus berubah," jelas Mirza.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 telah mencapai 5,02 persen secara (year on year). Angka tersebut lebih rendah jika dibanding pada pertumbuhan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 5,18 persen secara (year on year).

"Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi nasional sampai kuartal III tercatat sebesar 5,04 persen," terang Kepala BPS Suhariyanto, Senin (7/11/2016). "Sudah cukup bagus, tapi masih harus ditingkatkan kembali baik secara kuantitas maupun kualitas," sambung Suhariyanto.

Ada beberapa alasan mengapa pertumbuhan ekonomi nasional sedikit menurun. Alasan utamanya yaitu kondisi ekonomi dunia pada kuartal III masih belum stabil akibat tingkat pertumbuhan yang tidak merata. "Ekonomi pada beberapa negara mitra dagang sebagian besar juga tumbuh melambat di kuartal III," sambung dia.

Ia pun mencontohkan, pertumbuhan ekonomi China yang stagnan 6,7 persen. Pertumbuhan ekonomi Singapura yang melambat dari sebesar 2 persen menjadi 0,6 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi untuk Korea selatan juga melambat dari 3,3 persen jadi 2,7 persen.