Harga Bawang di Yogyakarta Melejit Rp 60.000 / Kg



( 2016-11-15 02:32:21 )

Kenaikan harga komoditas pangan terus berganti, setelah daging sapi, disusul dengan cabai, kini bawang. Harga bawang merah dan bawang putih melejit hingga Rp60.000 per kilogram dalam sepekan terakhir. Dan hal ini memberatkan konsumen. Pasalnya, selama ini harga bawang merah berkisar Rp35.000 per kilogramnya.

Hendro, 41, salah satu pengusaha makanan ringan asal Kecamatan Kalasan, Yogyakarta, terpaksa harus mengirit dalam menggunakan bawang merah dan bawang putih dalam produksi makanan ringannya. Selama ini, ia membeli bawang merah dan bawang putih seharga Rp30.000 - Rp35.000 per kg. Untuk mensiasati harga, ia harus membeli komoditas tersebut ke Pasar Beringharjo yang harganya lebih murah.

"Harga Rp60.000 itu di Pasar Prambanan, tempat biasa istri saya kulakan. Sekarang saya sering disuruh beli di Beringharjo sekalian setor makanan, harganya lebih murah," tutur Hendro ketika ditemui di kawasan Timoho, pada hari Senin (14.11.2016).

Cerita Hendro, sepekan yang lalu ia bersama istrinya membeli bawang merah di Pasar Prambanan masih di harga Rp40.000 per kilogramnya. Namun ia kaget karena hampir setiap hari selalu mengalami kenaikan antara Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogramnya. Dan awal pekan ini sudah menembus menjadi Rp60.000 per kg. Ketika bertanya ke pedagang, alasannya karena susah mendapatkan bawang.

Harga nyaris sama juga terjadi di Pasar Wage, Kecamatan Piyungan. Catur, salah seorang pedagang Pasar Wage mengungkapkan, saat ini ia menjual bawang merah dan putih seharga Rp60.000. Kenaikan harga bawang merah dan bawang putih ini sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Sepekan lalu ia masih menjual bawang merah dan bawang putih di harga Rp40.000 per kilogramnya.

Ia sendiri tidak mengetahui penyebab mahalnya harga bawang merah dan bawang putih tersebut. Warga asal Srimartani Kecamatan Piyungan ini mengaku sudah mendapatkan harga tinggi dari pemasok. Ia pun terpaksa menjual dengan harga yang tinggi meski mendapat complain dari para pembeli. Hal ini untuk menghindarinya dari kerugian. "Apalagi kedua komoditas tersebut tidak bisa disimpan lama," terangnya.

Meski harga tinggi, tetapi bawang yang ia jual masih tetap laku. Hanya saja, saat ini ia mengamati para pembeli banyak yang mengurangi jumlah pembelian mereka. Beberapa langganannya yang biasa membeli bawang dengan jumlah tertentu kini membeli separuhnya dari porsi biasa. Ia sendiri juga mengurangi porsi kulakan karena khawatir barangnya tidak laku sehingga nanti menanggung rugi.

Kepala Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta, Bambang Kristiyono mengatakan kenaikan harga bawang seperti sekarang ini, sudah menjadi tradisi. Yogyakarta termasuk wilayah yang unik, meski sebagai sentra penghasil bawang namun yang dinikmati warga setempat justru sedikit. Sebagian besar hasil panen bawang merah banyak dijual ke luar daerah dan untuk memenuhi kebutuhan di daerah ini, justru mendatangkan dari wilayah lain.